Kewirausahaan,
Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru
dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih.
Kewirausahaan salah satunya sebagai fungsi yang melingkupi optimalisasi
berbagai peluang yang mampu dibaca dalam pasar. Potensi yang mampu
dieksplorasi. Dalam realitas seorang wirausahawan selalu dihadapkan dengan
peluang-peluang dan resiko seperti halnya keeping mata uang yang tidak
terpisahkan, sehingga dituntut keberanian (wira) untuk melakukan tindakan
kreatif dan innovatif.
Wirausahawan adalah orang yang mampu
mencari dan memanfaatkan peluang usaha serta mendapat sumber daya yang
diperlukan untuk kegiatan usaha, dan berani menanggu resiko yang terjadi dalam
kegiatan usaha. Sedangkan pengusaha adalah orang yang menjalankan kegiatan
usaha baik usaha jual-beli, maupun usaha produksi yang tujuan utamanya asalah
mendapatkan keuntungan dan menanggung resiko yang terjadi dalam kegiatan
usahanya. Atau bisa disebut dengan orang
yang bekerja di bidang bisnis atau perdagangan, khususnya pada level eksekutif
atau seseorang yang memiliki keterampilan khusus di bidang finansial.
Seorang pengusaha tentunya harus
siap dengan kekalahan atau kegagalan dalam berbisnis, karena tanpa kekalahan
dan kegagalan tidak mungkin seseorang bisa menjadi pengusaha yang tangguh dan
sukses. Dalam dunia wirausaha, learning
by doing merupakan prinsip yang paling utama dan nyata. Sehingga modal
utama seorang pengusaha bisa dirumuskan menjadi kecerdasan, keberanian, serta
ditambah dengan keuletan.
Menurut pengertian pengusaha, antara
kecerdasan dan keberanian, keberanian lebih diutamakan sebagai modal dalam
merintis sebuah usaha. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengusaha kecil serta
menengah yang sukses. Banyak pengusaha memulai usahanya dari nol atau juga yang
melanjutkan usahanya secara turun temurun.
Seorang pengusaha yang memulai usaha
dari nol dan akhirnya jadi pengusaha sukses dan dikenal banyak orang pasti
sudah banyak melewati proses-proses yang tidak lah mudah. Memulai usaha bukan
lah hal yang mudah, sehingga jatuh bangun dalam berusaha itu sudah hal yang
biasa.
Pengusaha
Sukses,
Niluh Djelantik adalah sebuah nama yang tidak
asing bagi orang-orang yang mengutamakan kenyamanan dalam memakai sepatu.
Rancangan sepatunya tersebar di seluruh dunia. Para artis papan atas dunia
banyak yang memakai hasil karyanya. Ia memproduksi usaha sepatu, dilandasi rasa
cinta di dalamnya. Niluh meraih penghargaan Best Fashion Brand &
Designer The Yak Awards pada tahun 2010. Ia juga menjadi
nominasi Ernst and Young for Ernst & Young Entrepreneurial Winning
Women 2012 Awards.
Niluh lahir pada
tanggal 15 juni 1975 di Denpasar, Bali. Niluh hanya tinggal bersama ibunya. Masa kecil yang keras menempa Niluh Djelantik menjadi sosok yang
kuat. Berasal dari keluarga yang sederhana, kedua orangtuanya bercerai sejak ia
berusia satu tahun. Dibesarkan seorang diri oleh sang ibu, dia kerap menemani
ibunya berdagang di pasar. Meski begitu, memberikan pendidikan terbaik seolah
menjadi tekad ibunda tercinta. Sayangnya, karena kekurangan biaya, Niluh kecil
hampir tak pernah mendapatkan sepatu baru. Sepatu yang dimilikinya selalu
terlalu besar dan tak pernah muat di kakinya. Sepatu tersebut baru terasa pas
saat kondisinya sudah rusak dan berlubang. Sejak itulah alas kaki selalu
menjadi perhatian Niluh.
Dari SD sampai
SMA, Niluh tinggal di Bali. Niluh kemudian menempuh pendidikan di Universitas Gunadarma Jakarta sambil bekerja. Dari gaji pertamanya dibelikan
sepatu seharga 15.000. Meski terlihat pas di kaki, sayangnya sepatu tersebut
masih tak nyaman dipakai. Alhasil, ia pun kembali bersemangat dan bertekad
untuk mendapatkan alas kaki yang lebih baik. Selesai kuliah, Niluh kembali ke
Bali dan bekerja di perusahaan busana milik Paul Ropp, seorang berkebangsaan Amerika
Serikat. Dipercaya menduduki posisi
direktur marketing pada tahun 2012, penjualan perusahaan tersebut naik hingga
330% dan membuka 10 butik baru di beberapa lokasi. Keberhasilan tersebut
membawanya terbang New York. Sayangnya, ia jatuh
sakit yang membuatnya tak dapat bepergian selama enam bulan. Akhirnya Niluh pun
memutuskan pulang ke Bali.
Tekadnya membuat
sepatu yang nyaman masih tetap membara. Alhasil, meski berada di Indonesia,
Niluh mencoba peruntungan dengan menjalin kerja sama bersama Cedric Cador, pria
yang kemudian menjadi suaminya. Cedric sendiri bukan pemain baru. Ia kerap
menjual barang-barang Indonesia di Eropa. Dari kerja sama ini, lahirlah label
Nilou, di mana proses pengerjaan sepatu di bawah label ini benar-benar
mendapatkan pengawasan ketat dari Niluh. Untuk menjaga kualitas sekaligus
memastikan agar sepatu yang dihasilkan nyaman untuk dipakai, semua proses
pengerjaan dilakukan secara konvensional menggunakan tangan.
Koleksi pertama
Nilou akhirnya dikenal di Perancis dan dunia. Pesanan pun datang hingga 4.000 pasang.
Sejumlah pesohor Hollywood papan atas seperti
Uma Thurman, supermodel Gisele Bundchen dan Tara Reid, juga Robyn Gibson
merupakan penggemar fanatik sepatu Nilou.
Putri dari pasangan Ni
Nyoman Palmi dan Putu Djelantik ini berhasil meraih Best Fashion Brand
& Designer The Yak Awards 2010 lalu. Kecintaannya pada sepatu
menuntunnya menekuni bisnis sepatu yang kini telah dikenal dunia.
Tak hanya
memenangi penghargaan, label berbau Bali ini juga telah menembus Globus
Switzerland, salah satu retailer terkemuka di Eropa, pada 2011. Capaian
tersebut terus berlanjut di 2012, dimana ibu satu putri ini kemudian
berkesempatan menjalin kerjasama dengan retailer terkemuka dari
Rusia.Kesuksesan perempuan yang berasal dari Denpasar ini tidak berjalan secara
instan. Kerja keras dan pantang menyerah merupakan kunci dari kesuksesan yang
diraihnya. Masa kecil yang keras menempa perempuan kelahiran 15 Juni 1975 ini
menjadi sosok yang kuat.
Di tengah kesuksesan yang dialaminya, badai
cobaan kembali hadir. Ujian itu bermula kala di medio 2007, Niluh mendapatkan
tawaran dari agen Australia dan Prancis untuk melebarkan sayap dengan
memproduksi secara massal sepatu-sepatu dibawah labelnya. Rencananya, produksi
tersebut akan dilakukan di Cina. Tak ingin cinta yang terlanjur melekat
pada workshop sepatu buatan tangan tergantikan oleh mesin,
secara tegas, Niluh pun menolak. Siapa sangka,
keputusan yang ia ambil ini justru menjadi bumerang. Tanpa sepengatahuannya,
para penawar tersebut telah mematenkan Nilou dan tetap
memproduksi secara massal di Cina.
Tak patah semangat, Niluh yang merasa sedih
dan kecewa tetap berusaha untuk bangkit kembali. Masih dengan mimpi yang sama,
yakni membuat alas kaki yang nyaman dan pas, ia akhirnya memproduksi sepatu
dengan label Niluh Djelantik pada tahun 2008. Bekerja dengan
cinta, begitulah semangat yang melekat pada Niluh. Mengabungkan pekerjaan
dengan passion, pengalaman pahit yang ia alami justru membuatnya
semakin yakin untuk tetap mempertahankan impiannya semasa kecil, membuat alas
kaki yang pas dan nyaman.
Seorang pengusaha tentunya harus siap dengan
kekalahan atau kegagalan dalam berbisnis, karena tanpa kekalahan dan kegagalan
tidak mungkin seseorang bisa menjadi pengusaha yang tangguh dan sukses. Dalam
dunia wirausaha, learning by doing merupakan
prinsip yang paling utama dan nyata. Sehingga modal utama seorang pengusaha
bisa dirumuskan menjadi kecerdasan, keberanian, serta ditambah dengan keuletan.
Niluh lahir pada
tanggal 15 juni 1975 di Denpasar, Bali. Tekadnya
membuat sepatu yang nyaman karena pada masa kecilnya hampir tak pernah
mendapatkan sepatu baru. Sepatu yang dimilikinya selalu terlalu besar dan tak
pernah muat di kakinya. Sepatu tersebut baru terasa pas saat kondisinya sudah
rusak dan berlubang. Sejak itulah alas kaki selalu menjadi perhatian Niluh.
Tekadnya membuat sepatu yang nyaman masih tetap membara. Alhasil, meski berada
di Indonesia, Niluh mencoba peruntungan dengan menjalin kerja sama bersama
Cedric Cador, pria yang kemudian menjadi suaminya
Untuk menjaga
kualitas sekaligus memastikan agar sepatu yang dihasilkan nyaman untuk dipakai,
semua proses pengerjaan dilakukan secara konvensional menggunakan tangan. Koleksi
pertama Nilou akhirnya dikenal di Perancis dan dunia. Pesanan pun datang hingga 4.000 pasang.
Di tengah kesuksesan yang dialaminya, badai
cobaan kembali hadir. Ujian itu bermula kala di medio 2007, Niluh mendapatkan
tawaran dari agen Australia dan Prancis untuk melebarkan sayap dengan
memproduksi secara massal sepatu-sepatu dibawah labelnya.
Tak patah semangat, Niluh yang merasa sedih
dan kecewa tetap berusaha untuk bangkit kembali. Masih dengan mimpi yang sama,
yakni membuat alas kaki yang nyaman dan pas, ia akhirnya memproduksi sepatu
dengan label Niluh Djelantik pada tahun 2008.
Memulai segala hal
baik untuk berbisnis dan memulai sebuah usaha harus disertai dengan tekat yang
kuat. Sifat pantang menyerah harus ada, karena membangun sebuah usaha tidakn
boleh setengah-tengah. Seperti hal nya Niluh Djelantik, Beliau memulai usahanya
dengan tekat yang kuat walaupun badai pencobaan dating, beliau tetap semangat
menjalankan usahanya. Sehingga sekarang usahanya sukses dan terkenal.
No comments:
Post a Comment